Welcome to the Kingdom

Welcome to the Kingdom

Kamis, 21 Maret 2013

MEKANISME BAB & MEKANISME BAK



MEKANISME BUANG AIR BESAR (BAB) & MEKANISME BUANG AIR KECIL (BAK)


 


Disusun Oleh :
Kelompok 1    :
1.     Ike Nurjannah       5. Tariani Kartika S
2.     Sesti Listami          6. Novika Anggraeni
3.     Revy Sefriani         7. Melsa Triani
4.     Ricca Lestari                   8.Dwi Indriani
                               9. Mialiemi


Tingkat                      : I.B
Mata Kuliah             : KDPK
Dosen Pembimbing  : Khairunnisyah, S.Kep
AKADEMI KEBIDANAN
PEMERINTAH KABUPATEN MUARA ENIM TAHUN AKADEMIK 2010 / 2011
Kata Pengantar

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan YME, karena sampai saat ini kita masih di berikannya kesehatan, Sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan tugas makala ini yang ber judul “MEKANISME BUANG AIR BESAR (BAB) & MEKANISME BUANG AIR KECIL (BAK)” dengan tepat waktu.
Kami berharap makalah ini dapat membantu pembaca mencari tugas dan menambah ilmu tentang kesehatan khususnya untuk  .
Kami sadar bahwa makala ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu keritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan. Agar pada pembuatan makala selanjutnya dapat lebih baik dari sekarang.












Penulis,









Daftar Isi

Halaman Judul.................................................................................       
Kata Pengantar................................................................................       
Daftar Isi..........................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang...........................................................................        i
1.2  Rumusan Masalah......................................................................       ii
1.3  Tujuan........................................................................................       ii
1.4  Manfaat......................................................................................        ii

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Mekanisme BAB dan Mekanisme BAK.....................................        1
2.2 Mekanisme Buang Air Besar (BAB)..........................................        1
2.3 Mekanisme Buang Air Kecil (BAK)...........................................        3

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................       7
3.2 Saran.........................................................................................       7

Daftar Pustaka.................................................................................       8




BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Buang air besar (biasanya disingkat menjadi BAB) atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran berupa tinja atau feses melalui anus yang telah disimpan sementara dalam rectum, baik berbentuk padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan mahkluk hidup. Lubang anus terdiri atas otot sfingter yang berupa otot polos di bagian dalam dan otot lurik dibagian bawah. Manusia dapat melakukan buang air besar beberapa kali dalam satu hari atau satu kali dalam beberapa hari.
Tetapi bahkan dapat mengalami gangguan yaitu hingga hanya beberapa kali saja dalam satu minggu atau dapat berkali-kali dalam satu hari, biasanya gangguan-gangguan tersebut diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak benar dan jika dibiarkan dapat menjadi masalah yang lebih besar.
Buang air kecil (biasa disingkat menjadi BAK) atau sistem perkemihan yang dimiliki manusia pada pria dan wanita hanya sedikit berbeda, sebagian besar berkaitan dengan struktur genetalia eksterna. Fungsi sistem kemih pada pria dan wanita juga pada dasarnya sama. Namun, sistem ginjal dapat mengalami stres berat karena kehamilan, sebagian karena kedekatan letaknya dengan organ reproduksi.
Bidan perlu mengetahui dasar – dasar fisiologi ginjal agar dapat memahami perubahan yang terjadi di sistem ginjal selama kehamilan dan bagaimana perubahan tersebut memengaruhi keadaan umum wanita. Sebagai contoh yang mengalami perubahan tidak saja pengaturan dan retensi cairan, tetapi juga ekskresi glukosa dan zat lain. Ekskresi obat melalui ginjal mungkin dipengaruhi oleh kehamilan sehingga pengobatan jangka panjang perlu diubah. Efektivitas obat mungkin berkurang dan diperlukan perubahan dosis obat.  


1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat disimpulkan rumusan masalah yang kami hadapi yaitu sebagai berikut:
a.       Apa yang dimaksud dengan BAB dan BAK?
b.      Dan bagaimana pula mekanisme yang terjadi pada BAB dan BAK?.


1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa itu BAB dan BAK.
2.      Untuk mengetahui bagaimana mekanisme BAB dan BAK manusia pada pria dan wanita.

Selain dari pada itu makalah ini juga ditujukan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen Pembimbing..


1.4  Manfaat

Manfaat bagi penulis :
  1. Menambah daya kreativitas penulis.
  2. Menambah wawasan penulis tentang Mekanisme Buang Air Besar (BAB) dan Mekanisme Buang Air Kecil (BAK).

Manfaat bagi pembaca :
  1. Menambah wawasan dan pengetahuan pembaca tentang Mekanisme Buang Air Besar (BAB) dan Mekanisme Buang Air Kecil (BAK).
  2. Pembaca dapat memahami tentang Mekanisme Buang Air Besar (BAB) dan Mekanisme Buang Air Kecil (BAK).





BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Mekanisme Buang Air Besar (BAB) &Buang Air Kecil (BAK)

Kebutuhan Dasar Manusia (KDM )

Buang air besar (biasanya disingkat menjadi BAB) atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran berupa tinja atau feses melalui anus yang telah disimpan sementara dalam rectum, baik berbentuk padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan mahkluk hidup. Lubang anus terdiri atas otot sfingter yang berupa otot polos di bagian dalam dan otot lurik dibagian bawah. Manusia dapat melakukan buang air besar beberapa kali dalam satu hari atau satu kali dalam beberapa hari. Tetapi bahkan dapat mengalami gangguan yaitu hingga hanya beberapa kali saja dalam satu minggu atau dapat berkali-kali dalam satu hari, biasanya gangguan-gangguan tersebut diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak benar dan jika dibiarkan dapat menjadi masalah yang lebih besar.
      Buang air kecil (biasa disingkat menjadi BAK) atau sistem perkemihan yang dimiliki manusia pada pria dan wanita hanya sedikit berbeda, sebagian besar berkaitan dengan struktur genetalia eksterna. Fungsi sistem kemih pada pria dan wanita juga pada dasarnya sama. Namun, sistem ginjal dapat mengalami stres berat karena kehamilan, sebagian karena kedekatan letaknya dengan organ reproduksi.
2.2   Mekanisme Buang Air Besar (DEFEKASI)
Bila pergerakan massa mendorong feses masuk ke dalam rectum, segera timbul keinginan untuk defekasi, termasuk refleks kontraksi rectum dan relaksasi sfingter anus.Pendorongan massa feses yang terus menerus melalui anus dicegah oleh konstriksi tonik dari sfingter ani internus, penebalan otot sirkular sepanjang beberapa sentimeter yang terletak tepat di sebelah dalam anus, dan  sfingter ani eksternus, yang terdiri dari otot lurik volunteer yang mengelilingi sfingter internus dan meluas ke sebelah distal.
Refleks Defekasi
Biasanya, defekasi ditimbulkan oleh refleks defekasi. Satu dari refles-refleks ini adalah Refleks Intrinsik yang diperantarai oleh sistem saraf enteric setempat di dalam dinding rectum. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila feses memasuki rectum, distensi dinding rectum menimbulkan sinyal-sinyal aferen yang menyebar melalui pleksus mienterikus untuk menimbulkan gelombang peristaltic di dalam kolon desenden, sigmoid, dan rectum, mendorong feses kea rah anus. Sewaktu gelombang peristaltic mendekati anus, sfingter ani eksternus juga dalam keadaan sadar, dan berelaksasi secara volunteer pada waktu yang bersamaan, terjadilah defekasi.
         Refleks defekasi mienterik intrinsic yang berfungsi dengan sendirinya secara normal bersifat relative lemah. Agar menjadi efektif dalam menimbulkan defekasi, refleks biasanya harus diperkuat oleh refleks defekasi jenis lain, yaitu refleks defekasi parasimpatis yang melibatkan segmen sacral medulla spinalis. Bila ujung-ujung sraf dalam rectum dirangsang, sinyal-sinyal dihantarkan pertama ke dalam medulla spinalis dan kemudian secara refleks kembali ke kolon desenden, sigmoid, rectum dan anus melalui serabut-serabut saraf parasimpatis dalam nervus pelvikus. Sinyal-sinyal parasimpatis ini sangat memperkuat gelombang peristaltik dan juga merelaksasikan sfingter ani internus, dengan demikian mengubah refleks defekasi mienterik intrinsic dari suatu usaha yang lemah menjadi suatu proses defekasi yang kuat, yang kadang efektif dalam mengosongkan usus besar sepanjang jalan dari fleksura splenikus kolon sampai ke anus.
Sinyal-sinyal defekasi yang masuk ke medulla spinalis menimbulkan efek-efek lain, seperti mengambil nafas dalam, penutupan glottis, dan kontraksi otot-otot dinding abdomen untuk mendorong isi feses dari kolon turun ke bwah dan pada saat yang bersamaan menyebabkan dasar pelvis mengalami relaksasi ke bawah dan menarik ke luar cincin anus untuk mengeluarkan feses
Bila keadaan memungkinkan untuk defekasi, refleks defekasi secara sadar dapat diaktifkan dengan mengambil napas dalam untuk menggerakkan diafragma turun ke bawah dan kemudian mengontraksikan otot-otot abdomen untuk meningkatkan tekanan dalam abdomen, jadi mendorong isi feses ke dalam rectum untuk menimbulkan refleks-refleks yang baru. Refleks-refleks yang ditimbulkan dengan cara ini hampir tidak seefektif seperti refleks yang timbul secara alamiah, karena alasan inilah orang yang terlalu sering mengambat refleks alamiahnya cenderung mengalami konstipasi. Selama buang air besar, otot dada, diafragma, otot dinding abdomen, dan diafragma pelvis  menekan saluran cerna. Pernapasan juga akan terhenti sementara ketika paru-paru menekan diafragma dada ke bawah untuk memberi tekanan. Tekanan darah meningkat dan darah yang dipompa menuju jantung meninggi.
Buang air besar dapat terjadi secara sadar dan tak sadar. Kehilangan kontrol dapat terjadi karena cedera fisik (seperti cedera pada otot sphinkter anus), radang, penyerapan air pada usus besar yang kurang (menyebabkan diare, kematian, dan faktor faal dan saraf).

2.3 Mekanisme Buang Air Kecil (BAK) / Perkemihan
           
System Perkemihan
            Sistem perkemihan terdiri atas dua ginjal,yang menghasilkan urine, dua ureter yang berjalan dari ginjal ke kandung kemih (buli-buli, vesika urinaria),yang menerima dan menyimpan urine, dan uretra yang merupakan saluran keluarurine ke eksterior.

Ginjal
            Ginjal memiliki banyak fungsi selain menghasilkan urine. Ginjal terletak di dinding posterior ronggan abdomen, satu ditiap-tiap sisi kolumna vertebra setinggi vertebra torakalis dan lumbalis. Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah dari pada ginjal kiri karena hubungannya dengan hati. Setiap ginjal memiliki panjang sekitar 10cm, lebar 6,5cm dan tebal sekitar 3cm. setiap ginjal memiliki berat 100gram, kecil apabila dibandingkan dengan massa tubuh total, tetapi menerima sekitar 25% dari curah jantung. Pasokan darah ginjal berasal dari aortamelalui arteri renalis dan kembali ke vena cava inperior melalui vena renalis.
            Tiap-tiap ginjal terbungkus oleh kapsul fibrosa dan memiliki dua lapisan berbeda : korteks yang coklat kemerahan yang mendapat banyak darah,dan medulla dibagian dalam yaitu tempat ditemukannya suatu fungsional ginjal yaitu neftron.

Nefron
            Setiap ginjal memiliki sekitar sejuta nefron, yang masing-masing panjangnya sekitar 3cm. Nefron adalah tubulus yang tertutup di suatu ujung dan terbuka ke duktrus koligentes (collecting duct) di ujung yang lain. Terdapat dua jenis nefron yaitu nefron korteks dan nefron jukstaglomerulus. Produksi urin tergantung 3 tahap : filtrasi sederhana, reabsorpsi selektif, dan sekresi.

Filtrasi
Filtrasi adalah proses pasif yang terjadi melalui dinding semipermeabel glomerulus dan kapsul glomerulus. Air dan molekul kecil masuk ke nefron sedangkan sel darah, protei dan molekul besar lainnya tertahan di darah. Isi kapsul browman disebut sebagai “filtral glomerulus” dan kecepatan pembentukan cairan ini disebut sebagai “laju filtrat glomerulus” (glomerular filtration rate), GFR. Ginjal membentuk sekitar 180 litter cairan encer setiap hari (GFR sekitar 125 ml/mnt)sebagian besar cairan ini secara selektif direabsorbsi sehingga volume akhir urine yang di bentuk adalah sekitar 1-1,5/hari

Reabsorbsi selektif
Filtrate glomerulus diarbsorbsi dari bagian lain nefron ke kapiler sekitarnya. Tubulus kontrektus froksimalis merupakan bagian yang paling lebar dan panjang nefron keseluruhan(sekitar 1,4 cm panjangnya). Sel yang melapisi bagian dalam bagian ini mengandung sejumlah besar mitokondria untuk menghasilkan energy untuk menjalankan transfortasi aktif karena sebagian besar reabsorbsi filtrate glomerulus berlangsung disini. Glukosa dan asam amino direabsorbsi secara total. Sedangkan reabsorbsi zat sisa umumnya inklompet.

Sekresi
            Sebagian zat sisa mungkin secara aktif diangkut secara langsung kedalam tubulus dari kapiler darah di sekitarnya. Zat ini mencangkup ion hidrogen dan kalium, kreatinin, toksin, dan obat. Sel tubulus ginjal menyintesis sebagian zat, misalnya ion amonia dan peptide, yang disekresikan ke dalam filtrate.

Ureter
            Ureter, yaitu saluran dengan panjang sekitar 25-30cm dan garis tengah 3 mm, mengangkut urine dari ginjal kekandung kemih. Dari setiap ginjal duktus koligentes menyalurkan isinya ke pelvis ginjal, yang kemudian disalurkan ke ureter. Dinding pelvis ginjal mengandung  otot polos, yang memiliki aktivitas intristik (yaitutidakdi kontrol oleh saraf), dan menghasilkan gelombang kontraksi peristalsis setiap 10 detik. Gelombang koontraksi ini mendorong urine sepanjang ureter ke kandung kemih. Setiap ureter juga dilapisi oleh otot polos.

Kandung Kemih
            Kandung kemih juga terdiri atas otot polos dan berfungsi sebagai penampung urine. Kandung kemih dikosongkan secara intermiten dibawah pengaruh kesadaran. Reseptor regang didalam otot dan trigonum menghasilkan sinyal yang mengisyaratkan bahwa kandung kemih sudag penuh. Kapasitas normal kandung kemih sekitar 700-800 ml; namun, keinginan alami untuk berkemih sudah muncul apabila jumlah urine dalam kandung kemih mencapai sekitar 300 ml.
            Karena terletak di bawah uterus, kapasitas kandung kemih terganggu oleh uterus yang sedang tumbuh pada masa hamil. Kemudian, setelah uterus yang hamil menjadi organ abdomen, tekanan pada kandung kemih berkurang. Akhirnya, pada akhir masa kehamilan, kapasitas kandung kemih kembali terganggu karena bagian terbawah janin masuk, menempati ruang di dalam rongga panggul sejati.

Uretra
            Urine dikeluarkan melalui uretra. Uretra wanita jauh lebih pendek daripada  uretrapria: hanya 4 cm panjangnya dibandingkan dengan panjang sekitar 20cm pada pria. Perbedaan anatomis ini menyebabkan insiden infeksi saluran kemih asendens lebih tinggi pada wanita. Dengan demikian, hitung koloni yang lebih daripada 100.000 sel bakteri permiliter urine diangagap bermakna patologis. Sfingter internal bagian atas, di tempat keluar dari kandung kemih, terdiri atas otot polos dan di bawah pengendalian otonom. Sfingter eksternal adalah otot rangka dan berada di bawah pengendalian volunteer. Uretra pada pria memiliki fungsi ganda sebagai saluran untuk urine dan spermatozoa, melalui koitus.

Urine
            Urine memiliki berat jenis 1010-1030 dan biasanya asam. Volume dan konsentrasi akhir urea dan zat terlarut bergantung pada asupan cairan. Tidur dan aktivitas otot juga menghambat produksi urine. Warna kuning gading disebabkan oleh urobilin, yaitu pigmen empedu. Urine memilki bau khas, yang bila segar tidak terlalu berbau. Bau atau kekeruhan biasanya menunjukkan infeksi.


Pengendalian berkemih
            Berkemih (miksi, urinasi) adalah respons terkoordinasi yang disebabkan oleh kontraksi dinding otot kandung kemih, relaksasi refleks sfingter internal uretra, dan relaksasi volunter sfingter eksternal. Respons ini dibantu oleh peningkatan tekanan dirongga panggul karena diafragma menurun dan otot abdomen berkontraksi. Peregangan berlebihan kandung kemih menimbulkan rasa nyeri dan dapat menyebabkan relaksasi involunter sfingter eksternal sehingga terjadi inkontinensia dan tumpahnya urine. Tonus sfingter ini juga dipengaruhi oleh rangsangan psikologis (missal: terbangun atau siap meninggalkan rumah) dan rangsangan eksternal (missal: suara air atau perasaan di toilet). Setiap faktor yang meningkatkan tekanan intra abdomen dan intravesika (missal: tertawa atau batuk) yang melebihi tekanan penutupan uretra dapat menyebabkan inkontinensia stress (stress incontinence).
            Penimbulan urine meningkatkan tekanan dinding kandung kemih, merangsang reseptor regang kandung kemih, yang menyalurkan impuls sensorik parasimpatis ke otak sehingga timbul kesadaran (akan keadaan ini). Namun, terdapat inhibisi desendens sadar terhadap refleks kontraksi kandung kemih dan relaksasi sfingter eksternal. Masuknya urine kedalam uretra menyebabkan iritasi dan merangsang reseptor regang yang memperkuat jalur sensorik sewaktu kandung kemih penuh. Berkemih ditunda sampai tempat dan waktu yang layak. Inhibisi refleks spinal dan kontraksi sfingter eksternal ini dipelajari.
















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Buang air besar (biasanya disingkat menjadi BAB) atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran berupa tinja atau feses melalui anus yang telah disimpan sementara dalam rectum, baik berbentuk padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan mahkluk hidup.
      Buang air kecil (biasa disingkat menjadi BAK) atau sistem perkemihan yang dimiliki manusia pada pria dan wanita hanya sedikit berbeda, sebagian besar berkaitan dengan struktur genetalia eksterna. Fungsi sistem kemih pada pria dan wanita juga pada dasarnya sama. Namun, sistem ginjal dapat mengalami stres berat karena kehamilan, sebagian karena kedekatan letaknya dengan organ reproduksi.

3.2 Saran
Untuk pembaca :
Di harapkan kritik dari pembaca agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi

Untuk penulis :
Diharapkan penulis mampu meningkatkan kreatifitas dalam pembuatan makalah ataupun karya tulis serta dapat menarik minat pembaca.


                       







Daftar Pustaka


Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC.
Murray, Robert K. Granner, Daryl K. Mayes, Peter A. Rodwell, Victor W. 2003. Harper’s Illustrated Biochemistry, Twenty-Sixth Edition. New York: Mc. Graw Hill.
http://id.wikipedia.org/wiki/Buang_air_besar Diakses pada tanggal 30 Mei 2010 pukul 19.05 WIB
Illingworth PJ, Jung RT,Howie PW, Leslie P, Isles TE. Diminution in energy expenditure during lactation. British Medical Journal 292:437-442, 1986

MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI ASPEK-ASPEK YANG DIKAJI DALAM TAHAP KEHIDUPAN WANITA ASPEK FISIK DAN ASPEK PSIKOSOSIAL

MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI                        
ASPEK-ASPEK YANG DIKAJI DALAM TAHAP KEHIDUPAN WANITA ASPEK FISIK DAN ASPEK PSIKOSOSIAL



logokbd
 







Di Susun oleh :
1.     Ike Nurjannah
2.     Revy Sefriani
3.     Ricca Lestari
4.     Sesti Listami
5.     Tariani Kartika Sari


TINGKAT                         : I B
DOSEN PEMBIMBING                   : Efrieni, S.Kep.Ners
PEMERINTAH KABUPATEN MUARA ENIM
AKADEMI KEBIDANAN MUARA ENIM
TAHUN AKADEMIK 2010/ 2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sumber segala harapan yang telah melimpahkan berkat dan rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah tentang “Aspek-Aspek yang dikaji dalam Tahap Kehidupan Wanita dari Aspek Fisik dan Aspek Psikososial” ini disusun untuk memenuhi tugas Kesehatan Reproduksi (KesPro) sebagai mahasiswa di Akbid Muara Enim Tahun Akademik 2010/2011.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu dan membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini, yaitu kepada:
1.      Dosen pembimbing kami yaitu Ibu Efryeni, S.Kep.Ners
2.      Ortu yang telah memberi dorongan pada kami.
3.      Saudara - saudara kami yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
4.      Teman-teman di Akbid ini.
Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari banyak sekali kekurangan, untuk itu penulis menerima saran-saran dan kritik. Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Muara Enim,   Mei 2011


Penulis





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................i
KATA PENGANTAR ............................................................................ ii
DAFTAR ISI........................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................
1.1  Latar Belakang......................................................................................         1
1.2  Rumusan Masalah.................................................................................          1
1.3  Tujuan...................................................................................................         2
1.4  Manfaat.................................................................................................         2

BAB II PEMBAHASAN..........................................................................
             2.1 Pengertian aspek Fisik dan Psikososial.................................................            3
             2.2 Aspek pengkajian..................................................................................          4
             2.3 Fase-Fase Kehidupan Wanita...............................................................           5
             2.4 Perubahan Tubuh Selama masa Remaja................................................            9
             2.5 Kondisi-kondisi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja.......               11
            BAB III PENUTUP..................................................................................
             3.1 Kesimpulan...........................................................................................            12
             3.2 Saran.....................................................................................................           12
             DAFTAR PUSTAKA..................................................................................           13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kesehatan wanita banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat. Wanita sering dicitrakan sebagai makhluk yang lemah dan harus selalu mengalah dan berkorban.
Anggapan seperti tersebut, jelas merugikan kesehatan wanita.
Contoh perilaku dalam upaya peningkatan kesehatan wanita, yaitu : ibu hamil makan 1 1/2 porsi lebih banyak dari wanita yang tidak hamil, wanita membiasakan diri berolahraga secara rutin, wanita mengkonsumsi makanan yang bergizi dan membiasakan sarapan pagi, memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur, tidak merokok, tidak minum minuman keras, tidak mencandu narkoba, tidak bersenggama pada saat menstruasi, melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang sah, menyusui dan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
      Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan.
      Psikososial sebagai sesuatu yang menyinggung relasi sosial yang mencakup faktor-faktor psikologis. Masa remaja merupakan suatu periode dalam rentang kehidupan manusia, yang mau atau tidak mau pasti dialami. Pada masa ini, berlangsung proses-proses perubahan secara biologis, juga perubahan psikologis yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk oleh masyarakat, teman sebaya, dan juga media massa .

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan aspek fisik dan psikososial?
2.      Apa saja yang meliputi aspek pengkajian?
3.      Bagaimana fase-fase kehidupan wanita?
1.3  Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada pembaca tentang kekerasan terhadap wanita dan dampak apa saja yang dapat terjadi akibat kekerasan tersebut serta bagaimana cara mengatasinya.

1.4  Manfaat
Makalah ini sangat bermanfaat terhadap pembaca serta dapat memberikan wawasan, pengetahuan yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN FISIK DAN PSIKOSOSIAL
Kesehatan wanita banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat. Wanita sering dicitrakan sebagai makhluk yang lemah dan harus selalu mengalah dan berkorban. Anggapan seperti tersebut, jelas merugikan kesehatan wanita.
Contoh perilaku dalam upaya peningkatan kesehatan wanita, yaitu : ibu hamil makan 1 1/2 porsi lebih banyak dari wanita yang tidak hamil, wanita membiasakan diri berolahraga secara rutin, wanita mengkonsumsi makanan yang bergizi dan membiasakan sarapan pagi, memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur, tidak merokok, tidak minum minuman keras, tidak mencandu narkoba, tidak bersenggama pada saat menstruasi, melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang sah, menyusui dan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Perkembangan Fisik
            Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).


Definisi Psikososial
James P. Chaplin (1968) mendefinisikan psikososial sebagai sesuatu yang menyinggung relasi sosial yang mencakup faktor-faktor psikologis. Masa remaja merupakan suatu periode dalam rentang kehidupan manusia, yang mau atau tidak mau pasti dialami. Pada masa ini, berlangsung proses-proses perubahan secara biologis, juga perubahan psikologis yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk oleh masyarakat, teman sebaya, dan juga media massa .
Di masa remaja, seseorang belajar meninggalkan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan pada saat yang bersamaan remaja mempelajari perubahan pola perilaku dan sikap baru orang dewasa. Selain itu, remaja juga dihadapkan pada tuntutan yang terkadang bertentangan, baik dari orangtua, guru, teman sebaya, maupun masyarakat di sekitar. Remaja bisa menjadi bingung karena masing-masing memberikan tuntutan yang berbeda-beda tergantung pada nilai, norma, atau standar yang digunakan.

2.2 ASPEK PENGKAJIAN
Aspek pengkajian dalam kesehatan wanita meliputi :
1.      Aspek Fisik
Aspek fisik yang perlu dikaji dalam lingkup kesehatan wanita sama dengan pengkajian yang dilakukan pada manusia dewasa, antara lain :
·         Kondisi fisik (tanda-tanda vital)
·         Nutrisi
·         Cairan dan elektrolit
·         Higiene personal
·         Istirahat – tidur
·         Kasih sayang dan seks
·         Aktualisasi diri
·          Rasa aman dan nyaman
             2. Aspek Psikososial
psikososial yang dikaji, meliputi :

·         Identitas seksual perubahan fisik dan sikap dari wanita yang       menunjukkan identitasnya sebagai wanita
·         Identitas kelompok kepuasaan hidup dalam sebuah kelompok dan    penerimaan
·         Konsep diri (peran, identitas diri, gambaran diri atau citra tubuh, harga diri)
·         Kecemasan dan masalah kehidupan
·         Kondisi lingkungan sosial
·         Faktor pendukung dari keluarga dan masyarakat
·         Komunikasi atau hubungan dalam kelompok, keluarga dan masyarakat (perasaan dihargai)

2.3 FASE-FASE KEHIDUPAN WANITA
        Secara kronologis, setiap wanita mengalami berbagai fase dalam kehidupannya. Proses ini berlangsung secara alamiah yang wajar terjadi pada setiap wanita.
Fase dalam kehidupan wanita :
1. Lahir dan prapubertas
  1. Fisik
·         Terbentuknya bakal organ seks saat janin berusia 12 minggu
·         Sejak bayi, wanita sudah memiliki 2 indung telur
·         Pada masa ini sel telur belum matang
·         Belum menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan seks sekunder

  1. Psikososial
Anak perempuan diarahkan untuk mengikuti budaya yang berkembang dilingkungan tempat anak perempuan tersebut diasuh, misalnya :
·          Anak perempuan harus jongkok saat BAK sedangkan anak laki2 berdiri
·         Anak perempuan diajarkan untuk bersolek
·         Rambut anak perempuan dibiarkan panjang atau dipotong dengan model yang feminisme
·         Anak perempuan dididik untuk bersikap feminism
 2. Pubertas
  1. Fisik
·         Mulai terbentuk sel telur matur
·         Produksi hormon estrogen karena pengaruh matangnya sel telur
·         Mulai tumbuh tanda-tanda seks sekunder, misalnya : tumbuh payudara
  1. Psikososial
·         Wanita mulai tertarik pada lawan jenis dan mulai merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya
3. Reproduksi
  1. Fisik
·         Wanita mengalami masa menstruasi, dengan keluarnya darah dari vagina
·         Wanita memasuki usia reproduktif
·         Sel telur dapat dibuahi
·         Jika melakukan hubungan intim dengan lawan jenis, wanita dapat hamil
·         Bekerjanya hormon indung telur (estrogen dan progesteron)
  1. Psikososial
·         Wanita mulai cemas karena proses menstruasi
·         Wanita mulai mencari identitas diri, gambaran diri yang dipengaruhi kelompoknya
·         Bergaul dan berkumpul dengan teman-teman yang berjenis kelamin sama.
4. Premenopause
  1. Fisik
·         Kekuatan otot dan kecakapan mental mulai mencapai puncaknya
·         Dimulai proses penuaan
·         Penurunan hormon kewanitaan berangsur menurun
·         Proses menstruasi yang tidak teratur
·         Perasaan panas di sekitar wajah (hot flash)
·         Produksi keringat yang berlebihan
·         Kulit menjadi kusam dan kasar
·         Rambut cenderung kering dan rapuh
·         Perasaan adanya gangguan dalam hubungan intim
·         Kesulitan vagina mengalami lubrikasi, sehingga timbul rasa tidak nyaman saat bersenggama
  1. Psikososial
·         Wanita lebih banyak menarik diri dari lingkungannya
·         Wanita lebih sering merasa tersiggung, mudah cemas dan sangat sensitive
·         Gelisah karena menghadapi proses penuaan


5. Menopause
  1. Fisik
·         Hilangnya hormon kewanitaan
·         Menstruasi tidak muncul lagi
·         Organ reproduksi tidak berfungsi lagi
·         Berat badannya sulit dikendalikan
·         Terjadi timbunan lemak di beberapa tempat karena ketiadaan   hormon kewanitaan
·         Wanita sering mudah merasa lelah
·         Penyakit degeneratif (penyakit jantung, DM, gangguan ginjal dan osteoporosis) mudah menyerang
  1. Psikososial
·         Wanita mulai mencapai kematangan hidup
6. Senium
a. Fisik
Ø  Lemasnya otot-otot yang membuat struktur tubuh menjadi bengkok
Ø  Gangguan sendi mulai sering timbul
Ø  Berat badan cenderung berkurang
Ø  Penurunan daya guna tubuh
Ø  Kekuatan otot dari saat usia 20 tahun
Ø  Kekuatan pendengaran pada frekuensi menurun sampai 75%
Ø  Terjadi penurunan intelektual
Ø  Kemungkinan dapat terjadi gangguan otak secara organik


b. Psikososial
Ø  Terjadi perubahan sifat, misalnya : dari pemurung menjadi periang, dari pemberani menjadi penakut atau sebaliknya
Ø  Sering timbul perilaku yang sulit diterima karena terjadi gangguan otak organic

2.4 PERUBAHAN TUBUH  SELAMA  MASA  REJAMA
a. Perubahan Eksternal
1.TINGGI
Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi yang matang antara usia tujuh belas dan delapan belas tahun, dan rata-rata anak laki-laki kira-kira setahun sesudahnya.
           
            2.BERAT
            Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi. Tetapi berat badan sekarang tersebar ke bagian-bagian tubuh yang tadinya hanya mengandung sedikit lemak atau tidak mengandung lemak sama sekali.

            3.PROPORSI TUBUH
           Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan tubuh yang baik. Misalnya, badan melebar dan memanjang sehingga anggita badan tidak lagi kelihatan terlalu panjang.

            4.ORGAN SEKS
            Baik organ seks pria maupun wanita mencapai ukuran yang matang pada akhir masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.

          5.CIRI-CIRI SEKUNDER
            Ciri-ciri seks sekunder yang utama berada pada tingkat perkembangan yang matang pada akhir masa remaja.
b. Perubahan Internal
         1.SISTEM PENCERNAAN
          Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau bebentuk pipa, usus bertambah penjang dan bertambah besar, otot-otot perut di dinding-dinding usus menjadi lebih tebal dan lebih kuat, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.

         2.SISTEM PEREDARAN DARAH
         Jantung tumbuh pesat selama masa remaja; pada usia 17 atau 18, beratnya duabelas kali berat pada waktu lahir. Panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung sudah matang.

         3.SISTEM PERNAPASAN
         Kapasitas paru-paru anak perempuan hamper matang pada usia 17 tahun; anak laki-laki mencapai tingkat kematangan beberapa tahun kemudian.

         4.SISTEM ENDOKRIN
         Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan keseimbangan sementara dan seluruh system endokrin pada awal masa puber. Kelenjar-kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai ukuran matang sampai akhir masa remaja awal atau awal masa dewasa.

         5.JARINGAN TUBUH
         Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia 18 tahun. Jaringan sel tulang berkembang sampai tulang mencapai ukuran matang, khususnya bagi perkembangan jaringan otot.

2.5 KONDISI – KONDISI YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN    FISIK REMAJA
Adapun kondisi-kondisi yang mempengaruhi sebagai berikut :
  • Pengaruh Keluarga
  • Pengaruh Gizi
  • Gangguan Emosional
  • Jenis Kelamin
  • Status Sosial Ekonomi
  • Kesehatan
  • Pengaruh Bentuk Tubuh 

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Dengan di buatnya makalah ini,para pembaca dapat memperoleh ilmu baru yang belum mereka ketahui tentang aspek-aspek yang di kaji dalam setiap tahap kehidupan seperti , aspek fisik dan psikososial terutama pada wanita. Diharapkan pada para pembaca agar dapat mengetahui semua aspek fisik maupun aspek psikososial dalam setiap tahap kehidupan wanita sehingga para pembaca (wanita) dapat mengetahui aspek-aspek tersebut.

3.2 Saran-saran
            Kami selaku penulis ingin makalah ini dapat di jadikan panduan untuk para pembaca yang ingin mengetahui tahap kehidupan pada wanita seperti aspek fisik dan aspek psikososial.

DAFTAR PUSTAKA


-http://meida.staff.uns.ac.id/2009/05/05/pengkajian-kesehatan-wanita

http://meida.staff.uns.ac.id/?s=makalah+aspek+dalam+setiap+tahap+kiehidupan+wanita&searc