Welcome to the Kingdom

Welcome to the Kingdom

Kamis, 21 Maret 2013

MEKANISME BAB & MEKANISME BAK



MEKANISME BUANG AIR BESAR (BAB) & MEKANISME BUANG AIR KECIL (BAK)


 


Disusun Oleh :
Kelompok 1    :
1.     Ike Nurjannah       5. Tariani Kartika S
2.     Sesti Listami          6. Novika Anggraeni
3.     Revy Sefriani         7. Melsa Triani
4.     Ricca Lestari                   8.Dwi Indriani
                               9. Mialiemi


Tingkat                      : I.B
Mata Kuliah             : KDPK
Dosen Pembimbing  : Khairunnisyah, S.Kep
AKADEMI KEBIDANAN
PEMERINTAH KABUPATEN MUARA ENIM TAHUN AKADEMIK 2010 / 2011
Kata Pengantar

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan YME, karena sampai saat ini kita masih di berikannya kesehatan, Sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan tugas makala ini yang ber judul “MEKANISME BUANG AIR BESAR (BAB) & MEKANISME BUANG AIR KECIL (BAK)” dengan tepat waktu.
Kami berharap makalah ini dapat membantu pembaca mencari tugas dan menambah ilmu tentang kesehatan khususnya untuk  .
Kami sadar bahwa makala ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu keritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan. Agar pada pembuatan makala selanjutnya dapat lebih baik dari sekarang.












Penulis,









Daftar Isi

Halaman Judul.................................................................................       
Kata Pengantar................................................................................       
Daftar Isi..........................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang...........................................................................        i
1.2  Rumusan Masalah......................................................................       ii
1.3  Tujuan........................................................................................       ii
1.4  Manfaat......................................................................................        ii

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Mekanisme BAB dan Mekanisme BAK.....................................        1
2.2 Mekanisme Buang Air Besar (BAB)..........................................        1
2.3 Mekanisme Buang Air Kecil (BAK)...........................................        3

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................       7
3.2 Saran.........................................................................................       7

Daftar Pustaka.................................................................................       8




BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Buang air besar (biasanya disingkat menjadi BAB) atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran berupa tinja atau feses melalui anus yang telah disimpan sementara dalam rectum, baik berbentuk padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan mahkluk hidup. Lubang anus terdiri atas otot sfingter yang berupa otot polos di bagian dalam dan otot lurik dibagian bawah. Manusia dapat melakukan buang air besar beberapa kali dalam satu hari atau satu kali dalam beberapa hari.
Tetapi bahkan dapat mengalami gangguan yaitu hingga hanya beberapa kali saja dalam satu minggu atau dapat berkali-kali dalam satu hari, biasanya gangguan-gangguan tersebut diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak benar dan jika dibiarkan dapat menjadi masalah yang lebih besar.
Buang air kecil (biasa disingkat menjadi BAK) atau sistem perkemihan yang dimiliki manusia pada pria dan wanita hanya sedikit berbeda, sebagian besar berkaitan dengan struktur genetalia eksterna. Fungsi sistem kemih pada pria dan wanita juga pada dasarnya sama. Namun, sistem ginjal dapat mengalami stres berat karena kehamilan, sebagian karena kedekatan letaknya dengan organ reproduksi.
Bidan perlu mengetahui dasar – dasar fisiologi ginjal agar dapat memahami perubahan yang terjadi di sistem ginjal selama kehamilan dan bagaimana perubahan tersebut memengaruhi keadaan umum wanita. Sebagai contoh yang mengalami perubahan tidak saja pengaturan dan retensi cairan, tetapi juga ekskresi glukosa dan zat lain. Ekskresi obat melalui ginjal mungkin dipengaruhi oleh kehamilan sehingga pengobatan jangka panjang perlu diubah. Efektivitas obat mungkin berkurang dan diperlukan perubahan dosis obat.  


1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat disimpulkan rumusan masalah yang kami hadapi yaitu sebagai berikut:
a.       Apa yang dimaksud dengan BAB dan BAK?
b.      Dan bagaimana pula mekanisme yang terjadi pada BAB dan BAK?.


1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa itu BAB dan BAK.
2.      Untuk mengetahui bagaimana mekanisme BAB dan BAK manusia pada pria dan wanita.

Selain dari pada itu makalah ini juga ditujukan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen Pembimbing..


1.4  Manfaat

Manfaat bagi penulis :
  1. Menambah daya kreativitas penulis.
  2. Menambah wawasan penulis tentang Mekanisme Buang Air Besar (BAB) dan Mekanisme Buang Air Kecil (BAK).

Manfaat bagi pembaca :
  1. Menambah wawasan dan pengetahuan pembaca tentang Mekanisme Buang Air Besar (BAB) dan Mekanisme Buang Air Kecil (BAK).
  2. Pembaca dapat memahami tentang Mekanisme Buang Air Besar (BAB) dan Mekanisme Buang Air Kecil (BAK).





BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Mekanisme Buang Air Besar (BAB) &Buang Air Kecil (BAK)

Kebutuhan Dasar Manusia (KDM )

Buang air besar (biasanya disingkat menjadi BAB) atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran berupa tinja atau feses melalui anus yang telah disimpan sementara dalam rectum, baik berbentuk padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan mahkluk hidup. Lubang anus terdiri atas otot sfingter yang berupa otot polos di bagian dalam dan otot lurik dibagian bawah. Manusia dapat melakukan buang air besar beberapa kali dalam satu hari atau satu kali dalam beberapa hari. Tetapi bahkan dapat mengalami gangguan yaitu hingga hanya beberapa kali saja dalam satu minggu atau dapat berkali-kali dalam satu hari, biasanya gangguan-gangguan tersebut diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak benar dan jika dibiarkan dapat menjadi masalah yang lebih besar.
      Buang air kecil (biasa disingkat menjadi BAK) atau sistem perkemihan yang dimiliki manusia pada pria dan wanita hanya sedikit berbeda, sebagian besar berkaitan dengan struktur genetalia eksterna. Fungsi sistem kemih pada pria dan wanita juga pada dasarnya sama. Namun, sistem ginjal dapat mengalami stres berat karena kehamilan, sebagian karena kedekatan letaknya dengan organ reproduksi.
2.2   Mekanisme Buang Air Besar (DEFEKASI)
Bila pergerakan massa mendorong feses masuk ke dalam rectum, segera timbul keinginan untuk defekasi, termasuk refleks kontraksi rectum dan relaksasi sfingter anus.Pendorongan massa feses yang terus menerus melalui anus dicegah oleh konstriksi tonik dari sfingter ani internus, penebalan otot sirkular sepanjang beberapa sentimeter yang terletak tepat di sebelah dalam anus, dan  sfingter ani eksternus, yang terdiri dari otot lurik volunteer yang mengelilingi sfingter internus dan meluas ke sebelah distal.
Refleks Defekasi
Biasanya, defekasi ditimbulkan oleh refleks defekasi. Satu dari refles-refleks ini adalah Refleks Intrinsik yang diperantarai oleh sistem saraf enteric setempat di dalam dinding rectum. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila feses memasuki rectum, distensi dinding rectum menimbulkan sinyal-sinyal aferen yang menyebar melalui pleksus mienterikus untuk menimbulkan gelombang peristaltic di dalam kolon desenden, sigmoid, dan rectum, mendorong feses kea rah anus. Sewaktu gelombang peristaltic mendekati anus, sfingter ani eksternus juga dalam keadaan sadar, dan berelaksasi secara volunteer pada waktu yang bersamaan, terjadilah defekasi.
         Refleks defekasi mienterik intrinsic yang berfungsi dengan sendirinya secara normal bersifat relative lemah. Agar menjadi efektif dalam menimbulkan defekasi, refleks biasanya harus diperkuat oleh refleks defekasi jenis lain, yaitu refleks defekasi parasimpatis yang melibatkan segmen sacral medulla spinalis. Bila ujung-ujung sraf dalam rectum dirangsang, sinyal-sinyal dihantarkan pertama ke dalam medulla spinalis dan kemudian secara refleks kembali ke kolon desenden, sigmoid, rectum dan anus melalui serabut-serabut saraf parasimpatis dalam nervus pelvikus. Sinyal-sinyal parasimpatis ini sangat memperkuat gelombang peristaltik dan juga merelaksasikan sfingter ani internus, dengan demikian mengubah refleks defekasi mienterik intrinsic dari suatu usaha yang lemah menjadi suatu proses defekasi yang kuat, yang kadang efektif dalam mengosongkan usus besar sepanjang jalan dari fleksura splenikus kolon sampai ke anus.
Sinyal-sinyal defekasi yang masuk ke medulla spinalis menimbulkan efek-efek lain, seperti mengambil nafas dalam, penutupan glottis, dan kontraksi otot-otot dinding abdomen untuk mendorong isi feses dari kolon turun ke bwah dan pada saat yang bersamaan menyebabkan dasar pelvis mengalami relaksasi ke bawah dan menarik ke luar cincin anus untuk mengeluarkan feses
Bila keadaan memungkinkan untuk defekasi, refleks defekasi secara sadar dapat diaktifkan dengan mengambil napas dalam untuk menggerakkan diafragma turun ke bawah dan kemudian mengontraksikan otot-otot abdomen untuk meningkatkan tekanan dalam abdomen, jadi mendorong isi feses ke dalam rectum untuk menimbulkan refleks-refleks yang baru. Refleks-refleks yang ditimbulkan dengan cara ini hampir tidak seefektif seperti refleks yang timbul secara alamiah, karena alasan inilah orang yang terlalu sering mengambat refleks alamiahnya cenderung mengalami konstipasi. Selama buang air besar, otot dada, diafragma, otot dinding abdomen, dan diafragma pelvis  menekan saluran cerna. Pernapasan juga akan terhenti sementara ketika paru-paru menekan diafragma dada ke bawah untuk memberi tekanan. Tekanan darah meningkat dan darah yang dipompa menuju jantung meninggi.
Buang air besar dapat terjadi secara sadar dan tak sadar. Kehilangan kontrol dapat terjadi karena cedera fisik (seperti cedera pada otot sphinkter anus), radang, penyerapan air pada usus besar yang kurang (menyebabkan diare, kematian, dan faktor faal dan saraf).

2.3 Mekanisme Buang Air Kecil (BAK) / Perkemihan
           
System Perkemihan
            Sistem perkemihan terdiri atas dua ginjal,yang menghasilkan urine, dua ureter yang berjalan dari ginjal ke kandung kemih (buli-buli, vesika urinaria),yang menerima dan menyimpan urine, dan uretra yang merupakan saluran keluarurine ke eksterior.

Ginjal
            Ginjal memiliki banyak fungsi selain menghasilkan urine. Ginjal terletak di dinding posterior ronggan abdomen, satu ditiap-tiap sisi kolumna vertebra setinggi vertebra torakalis dan lumbalis. Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah dari pada ginjal kiri karena hubungannya dengan hati. Setiap ginjal memiliki panjang sekitar 10cm, lebar 6,5cm dan tebal sekitar 3cm. setiap ginjal memiliki berat 100gram, kecil apabila dibandingkan dengan massa tubuh total, tetapi menerima sekitar 25% dari curah jantung. Pasokan darah ginjal berasal dari aortamelalui arteri renalis dan kembali ke vena cava inperior melalui vena renalis.
            Tiap-tiap ginjal terbungkus oleh kapsul fibrosa dan memiliki dua lapisan berbeda : korteks yang coklat kemerahan yang mendapat banyak darah,dan medulla dibagian dalam yaitu tempat ditemukannya suatu fungsional ginjal yaitu neftron.

Nefron
            Setiap ginjal memiliki sekitar sejuta nefron, yang masing-masing panjangnya sekitar 3cm. Nefron adalah tubulus yang tertutup di suatu ujung dan terbuka ke duktrus koligentes (collecting duct) di ujung yang lain. Terdapat dua jenis nefron yaitu nefron korteks dan nefron jukstaglomerulus. Produksi urin tergantung 3 tahap : filtrasi sederhana, reabsorpsi selektif, dan sekresi.

Filtrasi
Filtrasi adalah proses pasif yang terjadi melalui dinding semipermeabel glomerulus dan kapsul glomerulus. Air dan molekul kecil masuk ke nefron sedangkan sel darah, protei dan molekul besar lainnya tertahan di darah. Isi kapsul browman disebut sebagai “filtral glomerulus” dan kecepatan pembentukan cairan ini disebut sebagai “laju filtrat glomerulus” (glomerular filtration rate), GFR. Ginjal membentuk sekitar 180 litter cairan encer setiap hari (GFR sekitar 125 ml/mnt)sebagian besar cairan ini secara selektif direabsorbsi sehingga volume akhir urine yang di bentuk adalah sekitar 1-1,5/hari

Reabsorbsi selektif
Filtrate glomerulus diarbsorbsi dari bagian lain nefron ke kapiler sekitarnya. Tubulus kontrektus froksimalis merupakan bagian yang paling lebar dan panjang nefron keseluruhan(sekitar 1,4 cm panjangnya). Sel yang melapisi bagian dalam bagian ini mengandung sejumlah besar mitokondria untuk menghasilkan energy untuk menjalankan transfortasi aktif karena sebagian besar reabsorbsi filtrate glomerulus berlangsung disini. Glukosa dan asam amino direabsorbsi secara total. Sedangkan reabsorbsi zat sisa umumnya inklompet.

Sekresi
            Sebagian zat sisa mungkin secara aktif diangkut secara langsung kedalam tubulus dari kapiler darah di sekitarnya. Zat ini mencangkup ion hidrogen dan kalium, kreatinin, toksin, dan obat. Sel tubulus ginjal menyintesis sebagian zat, misalnya ion amonia dan peptide, yang disekresikan ke dalam filtrate.

Ureter
            Ureter, yaitu saluran dengan panjang sekitar 25-30cm dan garis tengah 3 mm, mengangkut urine dari ginjal kekandung kemih. Dari setiap ginjal duktus koligentes menyalurkan isinya ke pelvis ginjal, yang kemudian disalurkan ke ureter. Dinding pelvis ginjal mengandung  otot polos, yang memiliki aktivitas intristik (yaitutidakdi kontrol oleh saraf), dan menghasilkan gelombang kontraksi peristalsis setiap 10 detik. Gelombang koontraksi ini mendorong urine sepanjang ureter ke kandung kemih. Setiap ureter juga dilapisi oleh otot polos.

Kandung Kemih
            Kandung kemih juga terdiri atas otot polos dan berfungsi sebagai penampung urine. Kandung kemih dikosongkan secara intermiten dibawah pengaruh kesadaran. Reseptor regang didalam otot dan trigonum menghasilkan sinyal yang mengisyaratkan bahwa kandung kemih sudag penuh. Kapasitas normal kandung kemih sekitar 700-800 ml; namun, keinginan alami untuk berkemih sudah muncul apabila jumlah urine dalam kandung kemih mencapai sekitar 300 ml.
            Karena terletak di bawah uterus, kapasitas kandung kemih terganggu oleh uterus yang sedang tumbuh pada masa hamil. Kemudian, setelah uterus yang hamil menjadi organ abdomen, tekanan pada kandung kemih berkurang. Akhirnya, pada akhir masa kehamilan, kapasitas kandung kemih kembali terganggu karena bagian terbawah janin masuk, menempati ruang di dalam rongga panggul sejati.

Uretra
            Urine dikeluarkan melalui uretra. Uretra wanita jauh lebih pendek daripada  uretrapria: hanya 4 cm panjangnya dibandingkan dengan panjang sekitar 20cm pada pria. Perbedaan anatomis ini menyebabkan insiden infeksi saluran kemih asendens lebih tinggi pada wanita. Dengan demikian, hitung koloni yang lebih daripada 100.000 sel bakteri permiliter urine diangagap bermakna patologis. Sfingter internal bagian atas, di tempat keluar dari kandung kemih, terdiri atas otot polos dan di bawah pengendalian otonom. Sfingter eksternal adalah otot rangka dan berada di bawah pengendalian volunteer. Uretra pada pria memiliki fungsi ganda sebagai saluran untuk urine dan spermatozoa, melalui koitus.

Urine
            Urine memiliki berat jenis 1010-1030 dan biasanya asam. Volume dan konsentrasi akhir urea dan zat terlarut bergantung pada asupan cairan. Tidur dan aktivitas otot juga menghambat produksi urine. Warna kuning gading disebabkan oleh urobilin, yaitu pigmen empedu. Urine memilki bau khas, yang bila segar tidak terlalu berbau. Bau atau kekeruhan biasanya menunjukkan infeksi.


Pengendalian berkemih
            Berkemih (miksi, urinasi) adalah respons terkoordinasi yang disebabkan oleh kontraksi dinding otot kandung kemih, relaksasi refleks sfingter internal uretra, dan relaksasi volunter sfingter eksternal. Respons ini dibantu oleh peningkatan tekanan dirongga panggul karena diafragma menurun dan otot abdomen berkontraksi. Peregangan berlebihan kandung kemih menimbulkan rasa nyeri dan dapat menyebabkan relaksasi involunter sfingter eksternal sehingga terjadi inkontinensia dan tumpahnya urine. Tonus sfingter ini juga dipengaruhi oleh rangsangan psikologis (missal: terbangun atau siap meninggalkan rumah) dan rangsangan eksternal (missal: suara air atau perasaan di toilet). Setiap faktor yang meningkatkan tekanan intra abdomen dan intravesika (missal: tertawa atau batuk) yang melebihi tekanan penutupan uretra dapat menyebabkan inkontinensia stress (stress incontinence).
            Penimbulan urine meningkatkan tekanan dinding kandung kemih, merangsang reseptor regang kandung kemih, yang menyalurkan impuls sensorik parasimpatis ke otak sehingga timbul kesadaran (akan keadaan ini). Namun, terdapat inhibisi desendens sadar terhadap refleks kontraksi kandung kemih dan relaksasi sfingter eksternal. Masuknya urine kedalam uretra menyebabkan iritasi dan merangsang reseptor regang yang memperkuat jalur sensorik sewaktu kandung kemih penuh. Berkemih ditunda sampai tempat dan waktu yang layak. Inhibisi refleks spinal dan kontraksi sfingter eksternal ini dipelajari.
















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Buang air besar (biasanya disingkat menjadi BAB) atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran berupa tinja atau feses melalui anus yang telah disimpan sementara dalam rectum, baik berbentuk padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan mahkluk hidup.
      Buang air kecil (biasa disingkat menjadi BAK) atau sistem perkemihan yang dimiliki manusia pada pria dan wanita hanya sedikit berbeda, sebagian besar berkaitan dengan struktur genetalia eksterna. Fungsi sistem kemih pada pria dan wanita juga pada dasarnya sama. Namun, sistem ginjal dapat mengalami stres berat karena kehamilan, sebagian karena kedekatan letaknya dengan organ reproduksi.

3.2 Saran
Untuk pembaca :
Di harapkan kritik dari pembaca agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi

Untuk penulis :
Diharapkan penulis mampu meningkatkan kreatifitas dalam pembuatan makalah ataupun karya tulis serta dapat menarik minat pembaca.


                       







Daftar Pustaka


Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC.
Murray, Robert K. Granner, Daryl K. Mayes, Peter A. Rodwell, Victor W. 2003. Harper’s Illustrated Biochemistry, Twenty-Sixth Edition. New York: Mc. Graw Hill.
http://id.wikipedia.org/wiki/Buang_air_besar Diakses pada tanggal 30 Mei 2010 pukul 19.05 WIB
Illingworth PJ, Jung RT,Howie PW, Leslie P, Isles TE. Diminution in energy expenditure during lactation. British Medical Journal 292:437-442, 1986

Tidak ada komentar:

Posting Komentar